Wujudkan Target Pertumbuhan Ekonomi Jateng 7 Persen, Gubernur Harus Bersinergi dengan Bupati / Walikota

oleh -0 views

Jogja – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Soekowardojo mengatakan Pemprov Jateng harus bekerja keras dengan melakukan loncatan loncatan penting guna mewujudkan target Presiden RI yakni pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah mencapai 7 persen pada tahun 2023. Pada saat ini, pertumbuhan ekonomi di Jateng tahun 2019 masih pada angka 5,4 persen dan diprediksi pada angka 5,8 pada tahun 2020.

“Butuh 700 triliun rupiah untuk bisa mencapai 7 persen. Ini jumlah yang tidak sedikit. Kalau ingin tercapai tahun 2023 diperlukan kerja keras,” kata Seokawaedojo dalam acara Ngopi Bareng Bank Indonesia dengan wartawan di Hotel Tentrem Jogja, Rabu (11/12/23).

Hal yang harus dilakukan Gubernur, tambah Seokowardojo, salah satunya adalah berusaha menarik investor ke Jawa Tengah sebanyak- banyaknya. Agar investor asing mau berinvestasi di Jawa Tengah, Pemprov Jateng harus menyiapkan lahan seluas luasnya yang clien dan clear serta regulasinya.

“Gubernur harus bersinergi dengan kepala daerah untuk menyiapkan lahan yang benar benar clear dan clien. Yang sering jadi kendala saat investor masuk, yakni saat investor masuk ternyata lahannya belum beres,” terangnya.Sementara, Soekowardojo memprediksi inflasi di Jawa Tengah pada 2020 mencapai angka 3,29 persen.

“Prediksi inflasi yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 mengingat sejumlah faktor bakal memberikan gejolak,” katanya.

Adapun posisi inflasi di Jateng pada 11 bulan atau hingga November 2019 baru mencapai angka 2,35 persen dan diprediksi bertambah sekitar 0,6 persen di Desember.

“Tahun 2019 kemungkinan inflasi perkiraan saya di bawah 3 persen, sekarang untuk 11 bulan baru mencapai 2,35 persen. Jika ditambah Natal dan tahun baru di Desember ini berkisar 0,6 persen baru sampai 2,95 persen,” jelasnya.

Baca Juga:  Kasat Reskrim dan Kapolsek Mejobo Kudus Diganti, Ini Pejabat yang Baru

Soekowardojo menjelaskan, sejumlah faktor yang dapat menyumbang kenaikan inflasi di 2020 yakni adanya kenaikan cukai rokok, kemudian volatile food, dan pertumbuhan industri.

“Inflasi tahun 2020 agak lebih tinggi karena khususnya cukai rokok akan naik, kalau volatile food sama. Kemudian sektor industri tumbuh, ekonomi juga bergerak sehingga inflasi intinya juga akan lebih tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, lanjutnya untuk tiket angkutan udara yang sebelumnya menyumbang inflasi cukup besar di 2017 lalu diyakini tidak akan terjadi lagi di 2020.

Meski demikian, kata dia prediksi inflasi tersebut masih bisa berubah seiring dengan perkembangan yang ada.

“Inflasi masih sangat bisa berubah tergantung kondisinya. Meski terjadi inflasi namun semuanya masih berada di target pemerintah,” katanya.

Sumber sigijateng.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *