Nasib Ratusan Anak Tak Sekolah Segera Dikembalikan ke Sekolah Formal dan Nonformal di Jepara

oleh -5 views
perwakilan lintas lembaga hadir di Bappeda Kabupaten Jepara untuk membahas nasib ratusan anak tak sekolah.

beritaplatk, Jepara – Sejumlah lembaga pemerintah dan nonpemerintah di Kabupaten Jepara sepakat bersama-sama mengembalikan anak tidak sekolah (ATS), agar bisa kembali belajar, baik di sekolah formal maupun nonformal.

Komitmen itu mengemuka, saat perwakilan lintas lembaga hadir di Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jepara, Rabu (17/11/2021).

Mereka mendapat paparan hasil pendataan ATS yang dilakukan bersama oleh Unicef, Lembaga Penelitian dan Pengabdian masyarakat (LPPM) Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang, dan Pemerintah Kabupaten Jepara.

Hasil pendataan tersebut menunjukkan, terdapat 2,27 persen ATS di 4 desa yang didata. Keempatnya adalah Tegalsambi (Kecamatan Tahunan), Nalumsari (Nalumsari), Tulakan (Donorojo), dan Tubanan (Kembang).

“Informasi mengenai data ATS di Kabupaten Jepara ini sangat bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi bagi kami dalam melaksanakan edukasi, layanan, dan program pendampingan pada anak,” ujar Hamidaturrohmah, perwakilan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Unisnu Jepara yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurut Hamiddatuuromah, hal itu merupakan salah satu konsen pihak Pusat Studi Gender dan Anak Unisnu Jepara. Untuk itu, pihaknya siap bekerja sama dengan Pemkab Jepara dan Unicef dalam menghadirkan pendidikan inklusi yang humanis di Jepara.

“Sehingga dapat meminimalisir jumlah anak putus sekolah baik dari anak reguler maupun anak berkebutuhan khusus,” kata Hamidaturrohmah.

Selain Unisnu, hadir juga perwakilan dari Dinsospermasdes, Disdikpora, Kantor Kemenag Jepara, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, dan Petinggi dari 4 desa yang didata.

Sementara itu, Kepala Bidang SMP Disdikpora Kabupaten Jepara, Haryanto, mengaku menyambut baik kerja sama semua lembaga, termasuk PSGA Unisnu yang bersedia menjadi nara sumber dalam program pendampingan kepada para guru untuk melaksanakan program sekolah inklusi yang humanis.

Baca Juga:  Kunjungi Kampung Samin Blora, Ganjar Resmikan Proyek Menara Air dan Bagikan KIS

“Kami harap kebutuhan sekolah inklusi bisa terpenuhi sehingga semua ATS bisa mengenyam kembali bangku pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi,” katanya.

Pengembalian ATS sejumlah 2,27 persen di keempat desa pilot di Jepara, bukan satu-satunya isu yang dicarikan solusi dalam program ini.

Perwakilan LPPM ITB/Unicef Supriyono Subakir menyampaikan hasil lengkap analisis pendataan pada Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) ATS di 4 desa tersebut.

Data yang ada menunjukkan, status sekolah anak usia 4 – 18 terdiri dari 7,15 persen anak berisiko putus sekolah, 4,59 persen tidak bersekolah karena Covid-19, dan 2,27 persen tidak bersekolah.

Indikator kategori ATS adalah anak yang tidak lulus SD, anak yang tidak pernah sekolah sama sekali, anak malas sekolah, anak tidak mampu sekolah, anak dalam pernikahan, anak terkena kasus hukum, dan anak berkebutuhan khusus.

Sebagai langkah solusi, Unicef mengupayakan semua ATS baik anak reguler maupun berkebutuhan khusus bisa belajar di sekolah formal maupun nonformal.

“Hal ini membutuhkan sinergi dan kolaborasi semua pihak dari tingkat kabupaten sampai desa,” paparnya.

Moderator Bappeda berharap advokasi hasil pendataan ATS ini mampu memberi wawasan dan informasi kepada semua pihak yang hadir untuk berkomitmen dan bekerja sama mewujudkan pendidikan ramah bagi semua anak.(**)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *