Kuasa Hukum Buka Suara Soal Bibi yang Dipolisikan Ponakannya di Semarang

oleh -17 views

beritaplatk – Seorang pria bernama Tan Jefry Wan Yuarta di Semarang melaporkan bibinya, Kwe Foeh Lan ke polisi, karena merasa ada keterangan palsu yang membuat ibunya kini dibui. Pihak terlapor pun memberikan keterangan soal itu.

Kuasa hukum Kwe Foeh Lan, John Richard, mengatakan kasus berawal dari tanah keluarga yang kemudian dijual oleh pihak ibu Jefri, Agnes Siane. Saat proses penjualan rumah tersebut ternyata terdapat hal yang tidak sesuai.

“2010-2011 mendengar tanah dijual. Kwe Foeh Lan dan suami mengecek. Di lokasi itu ditempel tanah dijual, di Jalan Tumpang. Konsultasi dengan pengacara terjadi gugatan perdata,” ujar John, Jumat malam (29/10/2021).

Kasus tersebut telah diproses dan Agnes dibui dengan hukuman dua tahun penjara terkait kasus penggelapan dan sudah inkrah. Kemudian soal tudingan anak Agnes, Tan Jefri Wan Yuarta, yang mengatakan kliennya memberi keterangan palsu, disebutnya tidak tepat.

“Itu bukan keterangan palsu karena berdasarkan keterangan logis. Ia menyebutkan bahwa tanah tersebut dikuasai bersama-sama dengan suaminya dan keluarga besar suaminya dengan menempati tanah dan bangunan yang sudah didirikan,” sambungnya.

John juga menganggap keterangan Tan Jefri merupakan testimonium de auditu karena tidak mengalami langsung kasus tersebut yang membuat Agnes dibui.

Kemudian soal berbagai bukti yang sudah dikumpulkan Jefri salah satunya akta hadiah, John mengatakan bahwa itu milik suami kliennya dan saat ini sedang dalam proses peninjauan kembali.

“Perlu dipahami akta hadiah ini bukan milik Jefri. Upaya hukum peninjauan kembali akta hadiah ini ditolak oleh MA. Pada saat dilaporkan ke Polrestabes Semarang sebenarnya akta hadiah ini dasar kepemilikannya masih proses diuji. Karena sudah inkrah harusnya menunggu dulu. Untuk mengklaim tanah dan bangunan sudah tidak berhak lagi,” katanya.

Baca Juga:  Satu Lagi Warga Rembang Positif Corona, Punya Riwayat ke Semarang

John menyebut beberapa upaya sudah dilakukan terkait laporan Jefri termasuk praperadilan tapi kalah. Namun, seharusnya penyidikan dihentikan terlebih dahulu.

“Kami pernah mengajukan gelar perkara khusus ke Bareskrim menyatakan laporan itu tidak didukung bukti yang cukup. Seharusnya sudah harus dihentikan tetapi tidak. Sehingga sudah merugikan Kwe Foah Lan karena dipanggil sebagai tersangka. Maka kita ajukan proses praperadilan karena tidak masuk pada materi. Tapi kami kalah jadi perkara terus berlanjut,” katanya.

“Kami berharap agar kejaksaan tinggi dan kejaksaan negeri jangan sampai menyatakan berkas ini lengkap karena tidak ada dasar hukum untuk melanjutkan kasus ini ke pengadilan,” sambungnya.

Sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5789050/kuasa-hukum-bibi-yang-dipolisikan-keponakan-di-semarang-buka-suara?single=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *