Berdiam Dalam Tandon Air, Cara Isolasi Mandiri Anggota Tim Pemulasaran Jenazah Covid-19

oleh -3 views

Kudus – Rasa capek dengan resiko kesehatan tinggi, tiap hari harus dihadapi oleh Tim relawan pemulasaran jenazah covid-19 dari BPBD kabupaten kudus.

Tak ada istilah menolak, saat ada permintaan pemulasaran dalam kamus mereka, walaupun jangankan upah, fasilitas karantinapun tak pernah dituntut.

Hampir setiap hari selam dua bulan ini, hari-harinya dipenuhi dengan cangkul, peti jenazah dan tanah kubur. Para relawan tim pemulasaran jenazah Covid-19, hampir tak pernah absen untuk membantu keluarga pasien covid-19 maupun pasien dalam pengawasan (PDP) dalam melakukan penghormatan terakhir kepada jasad pasien.

Seperti yang disampaikan oleh Kristanto, salah satu tim relawan pemulasaran jenazah pasien Covid-19 BPBD kabupaten kudus.

”Ini panggilan jiwa dan kami iklhas menjalaninya,” ucap Kristanto.

Walau tidak mendapat upah. Mereka tetap melakukannya dengan semangat. Mereka pun tak pernah menuntut apapun yang bisa menunjang pekerjaan yang kini sedang dikerjakan. Kondisi sehat cukup membuat mereka bersyukur. Selain masih bisa bekerja, mereka juga masih bisa bermanfaat terhadap sesama.

”Alhamdulilah, kami masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Walaupun hanya kerja serabutan. Sing penting syukur. Masalah insentif kami tidak mengharapkan. Tapi kalau ada anggaran dan dikasih ya kami terima,” kata bapak dua anak ini.

Seiring pertambahan jumlah pasien covid-19, diakuinya juga semakin banyak pula permintaan bantuan pemulasaran jenazah. Jika sebelumnya sehari hanya 1-3 kali, sebulan terakhir bahkan sehari bisa sampai 5 kali. Bahkan pernah semalam, mereka mendapat permohonan bantuan pemakaman tiga jenazah covid-19 dengan waktu yang bersamaan.

Jenazah pasien covid-19 memang tidak bisa diperlakukan layaknya jenazah manusia normal. Perlu perlakukan khusus untuk menghindari penularan virus yang ada di jasad.

Selama dua bulan menjadi tim relawan pemulasaran jenazah, Kristanto mengakui banyak hal yang tak terlupakan. Mulai dari kekhawatiran keluarga hingga kejadian yang membuat mereka menrasa was-was. Seperti yang dialami Gundul.

Baca Juga:  Jepara Dikepung Rawan Bencana, Aparat Gabungan dan Relawan Disiagakan

Dirinya bahkan sempat tidak diperbolehkan pulang oleh istrinya. Karena khawatir membawa virus yang bisa menulari dua putranya yang masih balita.

Meskipun tak memiliki gejala yang mengarah ke covid-19, dirinya pun melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Karena tak boleh pulang, karantina mandiri tersebut dilakukan di posko BPBD Kudus. Uniknya, warga Peganjaran ini memilih toren air sebagai tempat dirinya beristirahat.

”Saya tidurnya di dalam toren air. Nyaman nyaman saja,” imbuhnya.

Meskipun tak boleh pulang, namun sang istri sesekali datang menjenguk. Sambil membawakan pakaian dan makanan. Video call menjadi sarana untuk mengobati rasa kangen dengan anak. Untuk tetap menjaga stamina dan kesehatan, dirinya bersama anggota tim yang berjumlah 8 orang rutin mengkonsumsi vitamin. Selain itu, bahagia dan syukur menjadi hal yang wajib dilakukan.
Untuk memproteksi diri, empat jam setelah pemakaman mereka stanby di posko. Baru pulang, itu. Tapi kadang banyak yang tidak pulang.

”Melihat prosesnya kami tahu sendiri, jenazah sudah steril. Istilahe tidak terlalu takut. Kami selalu jaga stamina dengan minum vitamin dari BPBD dan rumah sakit. Drop alhamdulilah tidak pernah. Kami happy saja,” tuturnya. 

sumber jurnalpantura.id https://jurnalpantura.id/berdiam-dalam-tandon-air-cara-isolasi-mandiri-anggota-tim-pemulasaran-jenazah-covid-19/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.